Sabtu, 29 November 2008

ASAL USUL MUSIK PUNK

PUNK adalah salah satu aliran atau genre musik yang konon katanya berasal dari negri inggris. Jenisnya termasuk dalam kategori musik underground, artinya, hadir bukan untuk kepentingan industrialias di perjual belikan secara luas-komesil-di pasaran. Punk sejatinya adalah jenis musik yang sangat idealis, begitupun para penganutnya. Mereka tidak semata-mata menuangkan tingkatmusikalitas mereka dalam bentuk lagu, yang kemudian direkam oleh salah satu industri rekaman, lalu dijual di pasaran. Melainkan, sebagai sarana untuk menyampaikan kritik atau fenomena social-politik tertentu, penyimpangan kekuasaan pemerintahan dan kesewenangan para pengambil kebijakan. Karena itulah, punk dalam perjalanannya selalu sikonotasikan sebagai “musuh” para aparat penjaga “keamanan” Negara

Punkers, sebutan para penganut aliran punk, sering dianggap sebagai tukang kritik melalui lirik-liriknya, dan tukang “rusuh” melalui aksi agaliterian dari para penganutnya-meskipun itu belum tentu benar.

Dalam perjalanannya, punk kemudian menjelma menjadi salah satu aliran musik yangyang kian komersil. Belakangan tidak sedikit band punk yang kemudian memilih untuk membisniskan aliran musik punk itu sendiri. Banyak lagu berirama punk yang diciptakan lalu dinikmati pasar komersil secara luas, contohnya lagu-lagu kepunyaan Green Day atau
Blink 182
terdahulu. Sejalan dengan itu, seperti punk core, punk rock, atau punk horror. Meski demikian, toh perkembangan tersebut tidak keluarterlalu jauh dari pakem punk sebagai salah satu aliran musik “perjuangan”.

Jumat, 28 November 2008

sejarah musih rock arternatif


”Evanescence”
Berbicara Kehidupan dengan Cara Tak Terduga

Setelah Avril Lavigne, siapa lagi kalau bukan Amy Lee (20) yang kini disanjung anak-anak muda, lantaran pesona suaranya yang bercampur antara klasik hingga grunge. Tapi beda dengan Avril, Amy memang tidak membawa namanya sendiri di kemeriahan industri rock. Vokalis ini bergabung dalam nama band Evanescence, yang didirikannya bersama gitaris Ben Moody pada akhir 1990-an di Little Rock, Arkansas.
Grup rock yang mengawali debutnya dengan dua lagu (”Bring Me To Life” dan ”My Immortal”) di album OST Daredevil itu bermuasal dari kisah pertemuan antara Amy dan Ben dalam acara gabungan sekolah menengah di suatu musim panas. Saat itu Ben demikian terkesan dengan cara nyanyi Amy melagukan nomor Meat Loaf, ”I’d Do Anything For Love”.
Selesai penampilannya itu, langsung Ben mengajak Amy bergabung bersamanya dalam sebuah band. Kesepakatan antara keduanya segera berlangsung cepat, termasuk kesamaan visi pandang dalam mencipta lagu, yang dipengaruhi referensi Bjork, Tori Amos, Danny Elfman dan Kate Bush.
Meski sejak awal mereka cuma berdua, dan tak pernah membawa band lengkap di setiap performanya, Evanescence tetap memperoleh popularitas dengan rilis singel bernuansa gothic, yakni ”Understanding”. Lagu tersebut adalah salah satu lagu yang ditulis bareng Amy dan Ben. ”Understanding” memang tidak termuat dalam debut album perdana Fallen yang dirilis Sony Music baru-baru ini, tapi berhasil mempengaruhi selera massa dan sering diputar di stasiun radio lokal.
Begitulah sebagian cerita lama yang tak disangka-sangka merupakan tonggak awal dari Evanescence mencatat sejarah baru dalam musik rock progresif. Hingga kini, Evanescence (yang bermakna ”a dissipation or disappearance like vapor” = sirna atau cepat menghilang bagai uap) tetap berdua dengan tambahan musisi pendukung John LeCompt (gitar) dan dramer Rocky Gray untuk menghias berbagai performa mereka.
Bahkan untuk Fallen, Evanescence mengundang vokalis Paul McCoy (12 Stones) untuk berkolaborasi di lagu ”Bring Me To Life” (yang juga jadi salah satu lagu OST Daredevil). Mereka juga memboyong keikutsertaan Millenium Choir, Los Angeles untuk lagu Everybody’s Fool, Haunted, Imaginary dan Whisper. Selain itu ada bantuan dari dari pemusik Davis Hodges (piano dan kobor), Francesco DiCosmo (bas) dan dramer Josh Freese.
Penambahan-penambahan itu terlihat sebagai upaya terbaru Evanescence dalam memadukan ekspresi dua gitar dan dram, yang disempurnakan dengan bas dan perkalian layer kibor. Ini bisa disimak dari singel perdana Bring Me To Life. Sebuah lagu yang terbilang indah dengan warna rock ramah dan latar belakang musik balada pada instrumen piano.

Sesuatu yang Baru
Amy Lee memastikan Evanescence adalah band rock. ”Bercampur di dalamnya nuansa bertema epik, dramatis dan rock kelam,” sambungnya.
Reputasi dan nasib baik menjadi miliknya band asal Arkansas, yang langsung merasuki belantara rock Amerika. Lagu ”Bring Me To Life” adalah lagu balada piano yang berkisah tentang seseorang atau unsur yang terinspirasi ketika menemukan sesuatu yang baru. Di dalamnya muncul suatu yang baru, sebuah penawaran kenyataan dalam dunia yang lebih besar dari yang pernah Anda duga,” jelas Ben.
Melalui liriknya, Evanescence menggali kegelapan, mengintrospeksi cinta dan keputus-asaan. Bila diartikan secara maksimal, bisa terlihat sisi positif dari Evanescence.
”Intinya, lewat album Fallen kami ingin berbagi rasa dengan sesama mereka yang merasa terkucil atau sesak. Agar mereka tidak sendirian dalam menghadapi kepahitan hidup. Itulah kehidupan, dan itulah kemanusiaan. Kita tidak pernah sendirian, dan semua orang menjalani proses seperti itu,” pandang Amy serius.
”Semuanya tercipta dari kejujuran kami. Sekarang ini banyak musik ditampilkan dengan isi yang penuh kemarahan para remaja, dan itu bukan kami. Kami tidak berusaha menjual suatu opini. Kami hanya ingin menulis sesuatu dari hati kami,” komentar Ben lebih jauh.
Mereka membantah kalau lirik ciptaannya dihubungkan dengan misi Kristiani dengan makna atau pesan religius yang tersamar. ”Musik kami tak berhubungan dengan persoalan agama,” lanjut Ben.
Musik kami sekadar pengalaman hidup, tambahnya. ”Saya menjamin, bila pemilik toko buku Kristen mendengarkan beberapa lagu kami, mereka takkan mau menjual CD kami,” jawab Ben, mengenai kontroversi penjualan CD Fallen di toko-toko musik Kristen.
Hasil wawancara Evanescence dengan Entertainment Weekly yang termuat 18 April lalu, sempat menghebohkan dunia musik Kristen. Segalanya terjadi karena salah mengartikan makna lirik lagu ”Bring Me To Life”, yang kebetulan mendapat tempat terhormat di stasiun radio Kristen. Itulah yang lalu membuat Fallen didistribusikan ke toko-toko musik Kristen, namun ditarik kembali saat kemudian band tersebut berkomentar ihwal Evanescence yang sekular, dan memandang musik mereka sebagai bagian entertainment.

sejarah musik hip-hop

Musik Grunge diawali trend pemunculannya pada awal tahun ‘80an walau telah ada sebuah band yang memainkan musik Grunge yang telah muncul pada tahun ‘60an yaitu Crosby, Still, Nash dan Young (Literatur:sejarah Musik Dunia, Gramedia).

Tags: sejarah musik. Bubuy Bulan. Bubuy bulan adalah salah satu lagu yang diciptakan oleh Benny Corda. Benny Corda anggota dari salah satu grup musik Jazz Filipina. Pada Tahun 1925 Benny Corda datang ke Bandung untuk menghibur

Kemarin saya mengerjakan Tugas mata kuliah Sejarah Pemikiran di kos seorang teman. Kami berempat kerja ruyukan menghadapi buku-buku dan artikel-artikel yang harus dibaca dengan akomodasi maksimum dan konsentrasi tinggi.

Jazz adalah sebuah seni ekspresi dalam bentuk musik. Anggapan musik jazz adalah musiknya kaum elite dan mapan ternyata salah besar bila dilihat dari sejarah terbentuknya aliran ini. Jazz disebut sebagai musik fundamental dalam hidup

SEJARAH MUSIK RAP / HIP HOP. By budi arianto tarihoran | October 15, 2008. Buat Rapper sibolga tapteng Untuk mengerti sejarah dari rap, kamu harus to dua hal: Rap adalah berbicara dengan rima mengikuti ritme atau ketukan beat.

waaaaaaaahhhhh. thanx bwt infonyaxxx.

"Musik Jamaica Pendahulu" Menurut sejarah Jamaica, budak yang membawa drum dari Africa disebut "Burru" yang jadi bagian aransemen lagu yang disebut "talking drums" (drum yang bicara) yang asli dari Africa Barat.

rock adalah jenis musik. hal itu muncul atas dasar kreativitas manusia. jadi, rock itu manusiawi.

sejarah musik rock

Awal Mula

Embrio kelahiran scene musik rock underground di Indonesia sulit dilepaskan dari evolusi rocker-rocker pionir era 70-an sebagai pendahulunya. Sebut saja misalnya God Bless, Gang Pegangsaan, Gypsy(Jakarta), Giant Step, Super Kid (Bandung), Terncem (Solo), AKA/SAS (Surabaya), Bentoel (Malang) hingga Rawe Rontek dari Banten. Mereka inilah generasi pertama rocker Indonesia. Istilah underground sendiri sebenarnya sudah digunakan Majalah Aktuil sejak awal era 70- an. Istilah tersebut digunakan majalah musik dan gaya hidup pionir asal Bandung itu untuk mengidentifikasi band-band yang memainkan musik keras dengan gaya yang lebih `liar’ dan `ekstrem’ untuk ukuran jamannya. Padahal kalau mau jujur, lagu-lagu yang dimainkan band- band tersebut di atas bukanlah lagu karya mereka sendiri, melainkan milik band-band luar negeri macam Deep Purple, Jefferson Airplane, Black Sabbath, Genesis, Led Zeppelin, Kansas, Rolling Stones hingga ELP. Tradisi yang kontraproduktif ini kemudian mencatat sejarah
namanya sempat mengharum di pentas nasional. Sebut saja misalnya El Pamas, Grass Rock (Malang), Power Metal (Surabaya), Adi Metal Rock (Solo), Val Halla (Medan) hingga Roxx (Jakarta). Selain itu Log jugalah yang membidani lahirnya label rekaman rock yang pertama di Indonesia, Logiss Records. Produk pertama label ini adalah album
ketiga God Bless, “Semut Hitam” yang dirilis tahun 1988 dan ludes hingga 400.000 kaset di seluruh Indonesia.

Menjelang akhir era 80-an, di seluruh dunia waktu itu anak-anak muda sedang mengalami demam musik thrash metal. Sebuah perkembangan style musik metal yang lebih ekstrem lagi dibandingkan heavy metal. Band- band yang menjadi gods-nya antara lain Slayer, Metallica, Exodus, Megadeth, Kreator, Sodom, Anthrax hingga Sepultura. Kebanyakan kota- kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Surabaya, Malang hingga Bali, scene undergroundnya pertama kali lahir dari genre musik ekstrem tersebut. Di Jakarta sendiri komunitas metal pertama kali tampil di depan publik pada awal tahun 1988. Komunitas anak metal (saat itu istilah underground belum populer) ini biasa hang out di Pid Pub, sebuah pub kecil di kawasan pertokoan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Menurut Krisna J. Sadrach, frontman Sucker Head, selain nongkrong, anak-anak yang hang out di sana oleh Tante Esther, owner Pid Pub, diberi kesempatan untuk bisa manggung di sana. Setiap malam minggu biasanya selalu ada live show dari band-band baru di Pid Pub dan kebanyakan band-band tersebut mengusung musik rock atau metal.

Band-band yang sering hang out di scene Pid Pub ini antara lain Roxx (Metallica & Anthrax), Sucker Head (Kreator & Sepultura), Commotion Of Resources (Exodus), Painfull Death, Rotor (Kreator), Razzle (GN’R), Parau (DRI & MOD), Jenazah, Mortus hingga Alien Scream (Obituary). Beberapa band diatas pada perjalanan berikutnya banyak yang membelah diri menjadi band-band baru. Commotion Of Resources adalah cikal bakal band gothic metal Getah, sedangkan Parau adalah embrio band death metal lawas Alien Scream. Selain itu Oddie, vokalis Painfull Death selanjutnya membentuk grup industrial Sic Mynded di Amerika Serikat bersama Rudi Soedjarwo (sutradara Ada Apa Dengan Cinta?). Rotor sendiri dibentuk pada tahun 1992 setelah cabutnya gitaris Sucker Head, Irvan Sembiring yang merasa konsep musik Sucker Head saat itu masih kurang ekstrem baginya.

Semangat yang dibawa para pendahulu ini memang masih berkutat pola tradisi `sekolah lama’, bangga menjadi band cover version! Di antara mereka semua, hanya Roxx yang beruntung bisa rekaman untuk single pertama mereka, “Rock Bergema”. Ini terjadi karena mereka adalah salah satu finalis Festival Rock Se-Indonesia ke-V. Mendapat kontrak rekaman dari label adalah obsesi yang terlalu muluk saat itu. Jangankan rekaman, demo rekaman bisa diputar di radio saja mereka sudah bahagia. Saat itu stasiun radio yang rutin mengudarakan musik- musik rock/metal adalah Radio Bahama, Radio Metro Jaya dan Radio SK. Dari beberapa radio tersebut mungkin yang paling legendaris adalah Radio Mustang. Mereka punya program bernama Rock N’ Rhythm yang
mengudara setiap Rabu malam dari pukul 19.00 – 21.00 WIB. Stasiun radio ini bahkan sempat disatroni langsung oleh dedengkot thrash metal Brasil, Sepultura, kala mereka datang ke Jakarta bulan Juni 1992. Selain medium radio, media massa yang kerap mengulas berita- berita rock/metal pada waktu itu hanya Majalah HAI, Tabloid Citra Musik dan Majalah Vista.

Selain hang out di Pid Pub tiap akhir pekan, anak-anak metal ini sehari-harinya nongkrong di pelataran Apotik Retna yang terletak di daerah Cilandak, Jakarta Selatan. Beberapa selebritis muda yang dulu sempat nongkrong bareng (groupies?) anak-anak metal ini antara lain Ayu Azhari, Cornelia Agatha, Sophia Latjuba, Karina Suwandi hingga Krisdayanti. Aktris Ayu Azhari sendiri bahkan sempat dipersunting sebagai istri oleh (alm) Jodhie Gondokusumo yang merupakan vokalis Getah dan juga
mantan vokalis Rotor.

Tak seberapa jauh dari Apotik Retna, lokasi lain yang sering dijadikan lokasi rehearsal adalah Studio One Feel yang merupakan studio latihan paling legendaris dan bisa dibilang hampir semua band- band rock/metal lawas ibukota pernah rutin berlatih di sini. Selain Pid Pub, venue alternatif tempat band-band rock underground
manggung pada masa itu adalah Black Hole dan restoran Manari Open Air di Museum Satria Mandala (cikal bakal Poster Café). Diluar itu, pentas seni MA dan acara musik kampus sering kali pula di “infiltrasi” oleh band-band metal tersebut. Beberapa pensi yang historikal di antaranya adalah Pamsos (SMA 6 Bulungan), PL Fair (SMA
Pangudi Luhur), Kresikars (SMA 82), acara musik kampus Universitas
Nasional (Pejaten), Universitas Gunadarma, Universitas Indonesia (Depok), Unika Atmajaya Jakarta, Institut Teknologi Indonesia (Serpong) hingga Universitas Jayabaya (Pulomas).

Berkonsernya dua supergrup metal internasional di Indonesia, Sepultura (1992) dan Metallica (1993) memberi kontribusi cukup besar bagi perkembangan band-band metal sejenis di Indonesia. Tak berapa lama setelah Sepultura sukses “membakar” Jakarta dan Surabaya, band speed metal Roxx merilis album debut self-titled mereka di bawah
label Blackboard. Album kaset ini kelak menjadi salah satu album speed metal klasik Indonesia era 90-an. Hal yang sama dialami pula oleh Rotor. Sukses membuka konser fenomenal Metallica selama dua hari berturut-turut di Stadion Lebak Bulus, Rotor lantas merilis album thrash metal major labelnya yang pertama di Indonesia, Behind The 8th Ball (AIRO). Bermodalkan rekomendasi dari manajer tur Metallica dan honor 30 juta rupiah hasil dua kali membuka konser Metallica, para personel Rotor (minus drummer Bakkar Bufthaim) lantas eksodus ke negeri Paman Sam untuk mengadu nasib. Sucker Head sendiri tercatat paling telat dalam merilis album debut dibanding band
seangkatan mereka lainnya. Setelah dikontrak major label lokal, Aquarius
Musikindo, baru di awal 1995 mereka merilis album `The Head Sucker’. Hingga kini Sucker Head tercatat sudah merilis empat buah album.

Dari sedemikian panjangnya perjalanan rock underground di tanah air, mungkin baru di paruh pertama dekade 90-anlah mulai banyak terbentuk scene-scene underground dalam arti sebenarnya di Indonesia. Di Jakarta sendiri konsolidasi scene metal secara masif berpusat di Blok M sekitar awal 1995. Kala itu sebagian anak-anak metal sering
terlihat nongkrong di lantai 6 game center Blok M Plaza dan di sebuah resto waralaba terkenal di sana. Aktifitas mereka selain hang out adalah bertukar informasi tentang band-band lokal daninternasional, barter CD, jual-beli t-shirt metal hingga merencanakan pengorganisiran konser. Sebagian lagi yang lainnya memilih hang out di basement Blok Mall yang kebetulan letaknya berada di bawah tanah.

Pada era ini hype musik metal yang masif digandrungi adalah subgenre yang makin ekstrem yaitu death metal, brutal death metal, grindcore, black metal hingga gothic/doom metal. Beberapa band yang makin mengkilap namanya di era ini adalah Grausig, Trauma, Aaarghhh, Tengkorak, Delirium Tremens, Corporation of Bleeding, Adaptor, Betrayer, Sadistis, Godzilla dan sebagainya. Band grindcore Tengkorak pada tahun 1996 malah tercatat sebagai band yang pertama kali merilis mini album secara independen di Jakarta dengan judul `It’s A Proud To Vomit Him’. Album ini direkam secara profesional di Studio Triple M, Jakarta dengan sound engineer Harry Widodo (sebelumnya pernah menangani album Roxx, Rotor, Koil, Puppen dan PAS).

Tahun 1996 juga sempat mencatat kelahiran fanzine musik underground pertama di Jakarta, Brainwashed zine. Edisi pertama Brainwashed terbit 24 halaman dengan menampilkan cover Grausig dan profil band Trauma, Betrayer serta Delirium Tremens. Di ketik di komputer berbasis system operasi Windows 3.1 dan lay-out cut n’ paste tradisional, Brainwashed kemudian diperbanyak 100 eksemplar dengan mesin foto kopi milik saudara penulis sendiri. Di edisi-edisi berikutnya Brainwashed mengulas pula band-band hardcore, punk bahkan ska. Setelah terbit fotokopian hingga empat edisi, di tahun 1997 Brainwashed sempat dicetak ala majalah profesional dengan cover
penuh warna. Hingga tahun 1999 Brainwashed hanya kuat terbit hingga tujuh edisi, sebelum akhirnya di tahun 2000 penulis menggagas format e-zine di internet (www.bisik.com). Media-media serupa yang selanjutnya lebih konsisten terbit di Jakarta antara lain Morbid Noise zine, Gerilya zine, Rottrevore zine, Cosmic zine dan
sebagainya.

29 September 1996 menandakan dimulainya sebuah era baru bagi perkembangan rock underground di Jakarta. Tepat pada hari itulah digelar acara musik indie untuk pertama kalinya di Poster Café. Acara bernama “Underground Session” ini digelar tiap dua minggu sekali pada malam hari kerja. Café legendaris yang dimiliki rocker gaek
Ahmad Albar ini banyak melahirkan dan membesarkan scene musik indie baru yang memainkan genre musik berbeda dan lebih variatif. Lahirnya scene Brit/indie pop, ledakan musik ska yang fenomenal era 1997 – 2000 sampai tawuran massal bersejarah antara sebagian kecil massa Jakarta dengan Bandung terjadi juga di tempat ini. Getah,
Brain The Machine, Stepforward, Dead Pits, Bloody Gore, Straight Answer, Frontside, RU Sucks, Fudge, Jun Fan Gung Foo, Be Quiet, Bandempo, Kindergarten, RGB, Burning Inside, Sixtols, Looserz, HIV, Planet Bumi, Rumahsakit, Fable, Jepit Rambut, Naif, Toilet Sounds, Agus Sasongko & FSOP adalah sebagian kecil band-band yang `kenyang’ manggung di sana.

10 Maret 1999 adalah hari kematian scene Poster Café untuk selama- lamanya. Pada hari itu untuk terakhir kalinya diadakan acara musik di sana (Subnormal Revolution) yang berujung kerusuhan besar antara massa punk dengan warga sekitar hingga berdampak hancurnya beberapa mobil dan unjuk giginya aparat kepolisian dalam membubarkan massa. Bubarnya Poster Café diluar dugaan malah banyak melahirkan venue- venue alternatif bagi masing-masing scene musik indie. Café Kupu- Kupu di Bulungan sering digunakan scene musik ska, Pondok Indah Waterpark, GM 2000 café dan Café Gueni di Cikini untuk scene Brit/indie pop, Parkit De Javu Club di Menteng untuk gigs punk/hardcore dan juga indie pop. Belakangan BB’s Bar yang super- sempit di Menteng sering disewa untuk acara garage rock-new wave-mellow punk juga rock yang kini sedang hot, seperti The Upstairs, Seringai, The Brandals, C’mon Lennon, Killed By Butterfly, Sajama Cut,
Devotion dan banyak lagi. Di antara semuanya, mungkin yang paling `netral’ dan digunakan lintas-scene cuma Nirvana Café yangterletak di basement Hotel Maharadja, Jakarta Selatan. Di tempat ini pulalah, 13 Januari 2002 silam, Puppen `menghabisi riwayat’ mereka dalam sebuah konser bersejarah yang berjudul, “Puppen : Last Show Ever”, sebuah rentetan show akhir band Bandung ini sebelum membubarkan diri.

Scene Punk/Hardcore/Brit/Indie Pop

Invasi musik grunge/alternative dan dirilisnya album Kiss This dari Sex Pistols pada tahun 1992 ternyata cukup menjadi trigger yang ampuh dalam melahirkan band-band baru yang tidak memainkan musik metal. Misalnya saja band Pestol Aer dari komunitas Young Offender yang diawal kiprahnya sering meng-cover lagu-lagu Sex Pistols lengkap dengan dress-up punk dan haircut mohawknya. Uniknya, pada perjalanan selanjutnya, sekitar tahun 1994, Pestol Aer kemudian mengubah arah musik mereka menjadi band yang mengusung genre british/indie pop ala The Stone Roses. Konon, peristiwa historik ini
kemudian menjadi momen yang cukup signifikan bagi perkembangan scene british/indie pop di Jakarta. Sebelum bubar, di pertengahan 1997 mereka sempat merilis album debut bertitel `…Jang Doeloe’. Generasi awal dari scene brit pop ini antara lain adalah band Rumahsakit, Wondergel, Planet Bumi, Orange, Jellyfish, Jepit Rambut, Room-V,
Parklife hingga Death Goes To The Disco.

Pestol Aer memang bukan band punk pertama, ibukota ini di tahun 1989 sempat melahirkan band punk/hardcore pionir Antiseptic yang kerap memainkan nomor-nomor milik Black Flag, The Misfits, DRI sampai Sex Pistols. Lukman (Waiting Room/The Superglad) dan Robin (Sucker Head/Noxa) adalah alumnus band ini juga. Selain sering manggung di Jakarta, Antiseptic juga sempat manggung di rockfest legendaris Bandung, Hullabaloo II pada akhir 1994. Album debut Antiseptic sendiri yang bertitel `Finally’ baru rilis delapan tahun kemudian (1997) secara D.I.Y. Ada juga band alternatif seperti Ocean yang memainkan musik ala Jane’s Addiction dan lainnya, sayangnya mereka tidak sempat merilis rekaman.

Selain itu, di awal 1990, Jakarta juga mencetak band punk rock The Idiots yang awalnya sering manggung meng-cover lagu-lagu The Exploited. Nggak jauh berbeda dengan Antiseptic, baru sembilan tahun kemudian The Idiots merilis album debut mereka yang bertitel `Living Comfort In Anarchy’ via label indie Movement Records. Komunitas-
komunitas punk/hardcore juga menjamur di Jakarta pada era 90-an tersebut. Selain komunitas Young Offender tadi, ada pula komunitas South Sex (SS) di kawasan Radio Dalam, Subnormal di Kelapa Gading, Semi-People di Duren Sawit, Brotherhood di Slipi, Locos di Blok M hingga SID Gank di Rawamangun.

Sementara rilisan klasik dari scene punk/hardcore Jakarta adalah album kompilasi Walk Together, Rock Together (Locos Enterprise) yang rilis awal 1997 dan memuat singel antara lain dari band Youth Against Fascism, Anti Septic, Straight Answer, Dirty Edge dan sebagainya. Album kompilasi punk/hardcore klasik lainnya adalah Still One, Still Proud (Movement Records) yang berisikan singel dari Sexy Pig, The Idiots, Cryptical Death hingga Out Of Control.